Rencana BRICS Lawan Dolar AS Dinilai Lebih Tepat Jadi Visi Jangka Panjang

- Pewarta

Jumat, 18 Juli 2025 - 07:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BRICS Butuh Strategi Jangka Panjang untuk Peran Global Lebih Besar. (Facebook.com @Setkab RI)

BRICS Butuh Strategi Jangka Panjang untuk Peran Global Lebih Besar. (Facebook.com @Setkab RI)

BLOK ekonomi beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan — kembali menyuarakan rencana mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional.

Namun sejumlah analis memperingatkan bahwa dominasi dolar dalam sistem keuangan global belum akan tergeser dalam waktu dekat.

Data Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa sekitar 88% dari semua transaksi valuta asing global masih melibatkan dolar AS pada 2022.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Profesor Anthony Johnson, ekonom keuangan internasional dari London School of Economics, menyebut inisiatif negara-negara BRICS masih terlalu dini untuk menggantikan posisi dolar secara sistemik.

“Perdagangan bilateral Rusia-Tiongkok yang menggunakan rubel-yuan hanyalah sebagian kecil dari arus keuangan global,” ujarnya.

“Dominasi dolar terkait erat dengan kepercayaan pasar dan infrastruktur keuangan yang sudah terbentuk selama puluhan tahun,” tambahnya.

Infrastruktur Keuangan Global Dominan Dolar Hambat Langkah De-dolarisasi Penuh

Infrastruktur keuangan internasional telah lama dikunci oleh dolar. Dalam laporan tahunan International Monetary Fund (IMF), sekitar 59% cadangan devisa bank sentral dunia masih disimpan dalam bentuk dolar pada akhir 2023.

Pasar komoditas seperti minyak mentah dan logam mulia hampir seluruhnya diperdagangkan dengan denominasi dolar, membuat transisi ke mata uang lain tidak mudah.

Selain itu, likuiditas dolar di pasar global juga menjadi faktor utama yang menjadikannya alat pembayaran paling efisien dan diterima luas, menurut laporan World Bank.

Analis senior Goldman Sachs, Michael Cahill, menilai bahwa upaya diversifikasi oleh BRICS lebih realistis untuk skala regional daripada global.

“Pasar membutuhkan waktu lama untuk mengembangkan kepercayaan pada alternatif dolar,” katanya dalam riset terbaru Goldman Sachs.

Motivasi BRICS: Lindungi Ekonomi Domestik dari Risiko Kebijakan Amerika Serikat

Meskipun tantangan besar, motivasi BRICS untuk mengurangi eksposur terhadap dolar dapat dimengerti.

Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve sepanjang 2022-2024 sempat memicu depresiasi tajam pada mata uang negara berkembang, mendorong inflasi impor, dan meningkatkan biaya pinjaman internasional.

BRICS berupaya mengurangi dampak fluktuasi ini dengan memperkuat perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal.

Rusia, misalnya, sejak sanksi Barat pada 2022, sudah mulai menerima pembayaran gas dalam rubel dan memperluas swap mata uang dengan Tiongkok.

Namun proporsi transaksi ini masih terbatas dibanding perdagangan global yang bernilai sekitar USD 32 triliun per tahun, menurut data WTO.

Selain itu, proyek mata uang bersama BRICS yang sempat digagas pada 2023 masih dalam tahap konsep awal, tanpa detail mekanisme jelas, menurut pernyataan resmi Kementerian Keuangan Brasil.

Transisi dari Dolar: Proses Bertahap dengan Risiko dan Ketidakpastian Tinggi

Para ekonom menekankan bahwa de-dolarisasi global memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, karena besarnya dependensi ekonomi dunia terhadap dolar.

Penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral belum menciptakan efek sistemik karena mata uang tersebut tidak memiliki pasar sekunder yang cukup besar dan stabil.

Faktor kepercayaan juga menjadi kunci, karena dolar dianggap sebagai aset “safe haven” di tengah ketidakpastian global.

Menurut laporan JPMorgan Chase pada kuartal I/2024, “ketergantungan global pada dolar lebih dipengaruhi oleh kebiasaan pasar dan kepercayaan kolektif, bukan hanya oleh kebijakan individu negara.”

Data menunjukkan bahwa sejak 2000, porsi dolar dalam cadangan devisa global hanya turun dari sekitar 71% menjadi 59%, penurunan yang terjadi secara perlahan dalam dua dekade.

Sementara itu, permintaan terhadap Treasury AS tetap kuat meski yield naik signifikan, menunjukkan investor global masih melihat dolar sebagai instrumen paling likuid dan aman.

BRICS Butuh Strategi Jangka Panjang untuk Peran Global Lebih Besar

Upaya BRICS untuk memperkuat mata uang mereka dalam perdagangan internasional mencerminkan ambisi geopolitik dan keinginan melindungi ekonomi domestik dari risiko eksternal.

Namun infrastruktur pasar global yang berbasis dolar, kepercayaan investor, serta likuiditas tinggi greenback membuat proses de-dolarisasi penuh sangat kompleks.

Untuk saat ini, langkah BRICS lebih tepat dipandang sebagai strategi jangka panjang yang bertahap daripada perubahan mendadak.

Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Johnson: “BRICS harus memperkuat institusi keuangan regional, memperbaiki transparansi, dan meningkatkan likuiditas jika ingin menantang dominasi dolar secara nyata.”***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Kongsinews.com dan Hilirisasinews.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Halloup.com dan Halloupdate.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Jatimraya.com dan Hellocianjur.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Dari Kritik hingga Reformasi, Intel Ubah Tantangan Jadi Peluang Industri Chip AS
AS Pangkas Impor dari Tiongkok, Negara Asia Tenggara Ambil Alih Pasar
Ekonomi AS di Ujung Resesi, Tapi Inovasi Hijau Munculkan Peluang Baru
Dari Indonesia untuk Asia–Eurasia: 15 Pengusaha Hadir di SCO Investment & Trade Expo 2025 Tiongkok
Mineral Langka Tiongkok: Kartu As dalam Perang Dagang, Mengapa AS Rela Bertekuk Lutut Demi Pasokan Kritis?
US Agency for Global Media Diminta untuk Pulihkan VOA dan Sejumlah Media di Bawah Naungannya
Naikkan Tarif Tambahan Menjadi 84 Persen untuk Produk Impor AS, Tiongkok Balas Kenaikan Tarif AS
Mulai 10 April 2025, Tiongkok Kenakan Tarif Tambahan 34 Persen untuk Semua Produk dari AS

Berita Terkait

Minggu, 10 Agustus 2025 - 11:41 WIB

Dari Kritik hingga Reformasi, Intel Ubah Tantangan Jadi Peluang Industri Chip AS

Kamis, 7 Agustus 2025 - 07:07 WIB

AS Pangkas Impor dari Tiongkok, Negara Asia Tenggara Ambil Alih Pasar

Selasa, 5 Agustus 2025 - 10:59 WIB

Ekonomi AS di Ujung Resesi, Tapi Inovasi Hijau Munculkan Peluang Baru

Rabu, 30 Juli 2025 - 12:02 WIB

Dari Indonesia untuk Asia–Eurasia: 15 Pengusaha Hadir di SCO Investment & Trade Expo 2025 Tiongkok

Jumat, 18 Juli 2025 - 07:15 WIB

Rencana BRICS Lawan Dolar AS Dinilai Lebih Tepat Jadi Visi Jangka Panjang

Berita Terbaru

logo

Pers Rilis

BDx Indonesia Dukung Komunitas Terdampak Banjir di Sumatra

Senin, 2 Feb 2026 - 02:00 WIB